Oleh: Elka Ferani
Bukan lantaran saya merasa telah menjadi ahli sedekah, hingga berani-beraninya saya menulis tentang sedekah.
Semua berawal dari oleh-oleh yang dibawa suami saya tercinta pada suatu sore. Pulang menjelang maghrib, dengan membawa barang-barang dalam beberapa kantong kresek besar. Dari jam pulang yang tak biasa dan dari penuhnya barang bawaan, saya telah bisa menduga ia baru mendapat rezeki rada lumayan, dan sisa waktunya hari itu dihabiskannya untuk membeli hadiah buat orang-orang tercintanya di rumah.
