Selasa, 08 Februari 2011

KEMATIAN: Sebuah Catatan

Oleh: Elka Ferani

Dua berita kematian membuatku terhenyak dalam tempo kurang dari 12 jam.

Berita kematian pertama berasal dari SMS yang dikirim ibundaku tercinta malam itu. KW, kakak kelasku yang dulu juga tetanggaku di Kompleks Angkasapura Bali, meninggal dunia beberapa waktu yang lalu karena pendarahan setelah melahirkan.

Setelah reda rasa terkejutku, kubayangkan wajah manis KW sambil terheran-heran dalam hati. Zaman sekarang, masih ada perempuan modern, dari keluarga kaya pula, yang meninggal karena melahirkan? Aku pikir, kejadian semacam ini hanya ada di kampung terpencil, ketika persalinan hanya ditolong oleh seorang dukun beranak.

Berita kematian yang kedua datang keesokan harinya, ketika pagi masih menyisakan gelap karena mentari belum terbit sempurna. Berawal dari status seorang teman di Facebook, membuat aku terdorong untuk segera membuka situs Detik.com, situs berita paling up-to-date. Dan ternyata berita yang ditulis temanku dalam statusnya itu bukan isapan jempol belaka.
Adjie Massaid, ya, mantan aktor yang kemudian menjadi politisi itu, pria bertubuh tegap atletis itu, ya, yang gemar berolahraga itu, meninggal dunia karena serangan jantung!

Sepulangnya suami dari sholat subuh di masjid, aku langsung mengabarkan berita itu kepadanya. “Kok bisa? Dia kan sehat?” kata suamiku, terkejut.

Ternyata aku tak sendirian. Ratusan juta penduduk Indonesia, mulai petinggi negara hingga rakyat jelata, merasa kaget dan tak percaya dengan berita ini. Hari itu kematian sang politisi tampan menjadi headline berita, menjadi buah bibir di mana-mana.

Dalam tayangan televisi, wajah yang jasadnya telah menjadi mayat itu terlihat damai layaknya orang tidur. Khusnul khotimah, insya Allah. Namun aku menangis dalam hati melihat putra-putrinya yang masih kecil-kecil. Aku membayangkan anak-anakku sendiri. Bagaimana jika aku atau suamiku mendadak dipanggil Allah di saat usia mereka masih sangat belia?

Dan jika ada sisi positif infotainmen, itu adalah ketika mereka menayangkan prosesi pemakaman seorang selebriti dari dekat. Detik-detik ketika jasad kaku terbungkus kain kafan itu diturunkan ke liang lahat. Membuat merinding jutaan pasang mata yang menyaksikan dari berbagai penjuru negeri. Jika kita mau merenung, tentunya kita sadar bahwa ini adalah pengingat dari Dia Sang Pemilik Nyawa: Betapa kematian sangat dekat! Terlalu dekat, hingga waktu kita terlalu berharga untuk terlena dan tak berbuat apa-apa untuk mempersiapkannya!

Tiba-tiba aku teringat pada tumpukan dosaku yang setinggi gunung. Sanggupkah aku melewati hal mengerikan itu, KEMATIAN dan pedihnya siksa kubur? Kematian yang bagi sebagian besar kita hanya milik mereka yang telah tua renta, sakit-sakitan dan tak memiliki uang untuk berobat, atau mereka yang tak sehat karena tak gemar berolahraga. Pada kenyataannya, malaikat maut sungguh tak pandang bulu!

Untuk pertama kalinya, aku menangis dan menghiba dalam sholatku, meminta sesuatu yang selama ini nyaris tak pernah terpikir olehku untuk kuminta kepada-Nya. Aku memohon Dia tidak mencabut nyawaku dalam keadaan menanggung banyak dosa dan hutang. Aku memohon Dia berkenan memanjangkan umurku dan suami, agar kami bisa mengantarkan anak-anak kami ke gerbang kedewasaan, hingga iman mereka cukup kokoh menghadapi zaman yang semakin edan. Astaghfirullah … astaghfirullah…

Mengomentari status Facebookku tentang berita kematian itu, seorang sahabat berkomentar.

“… Tapi tidak boleh takut dengan kematian kan? Selama kita komitmen menapaki jalan lurus dan suci, kematian yang sudah ditetapkan Alloh adalah sesuatu yang dirindukan karena kebahagian abadi dan kelezatan hidup yang belum pernah dirasa dan dilihat selama di dunia akan menjadi nyata …”

Sebuah teguran yang telak untukku. Betapa derajatku masih sangat rendah di hadapan-Nya. Karena aku masih takut dengan kematian, sesuatu yang seharusnya dirindukan. Ya Allah, bimbing kami ke arah jalan-Mu yang lurus, agar kami tak silau oleh gemerlapnya dunia, agar rasa takut ini segera menjelma rindu. Karena sesungguhnya kebahagiaan sejati adalah bertemu dengan-Mu. Dalam nikmat surga-Mu.

Jimbaran, 8 Februari 2011

1 komentar:

  1. semoga kematian senantiasa dapat menjadi dzikir harian kita

    BalasHapus

Ingin LANGSING dan SEHAT dengan
JUICE NUTRISI rasa es krim?

Tanya saya bagaimana!

081-999-548-688 | http://www.DietAsyik.blogspot.com | www.facebook.com/elkaferani

Entri Populer